Edunexa
Berita Nasional

Akhirnya Jumapolo dan Sekitarnya Kini Miliki SLB yang Representatif Berkat Program Revitalisasi Kategori Berita Penulis

19-11-2025

Penulis: Edunexa

Akhirnya Jumapolo dan Sekitarnya Kini Miliki SLB yang Representatif Berkat Program Revitalisasi Kategori Berita Penulis

Karanganyar, Kemendikdasmen - Setelah hampir 10 tahun merintis SLB Mandiri Putra dengan berbagai keterbatasan, Ita Sulistyowati kini bisa mewujudkan sekolah yang representatif dan nyaman untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dari pemerintah mempercepat mimpinya.

SLB Mandiri Putra merupakan salah satu dari 385 SLB yang direvitalisasi tahun 2025 dan telah selesai 100 persen. Peresmiannya dilakukan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti. "Selama puluhan tahun, di Jumapolo itu tidak ada SLB. Banyak ABK yang tidak bisa mengakses pendidikan," kata Ita saat peresmian SLB Mandiri Putra usai direvitalisasi, beberapa waktu lalu.

Sebenarnya, menurut Ita, tidak hanya di Kecamatan Jumapolo yang belum ada SLB saat itu. Kecamatan lain di sekitarnya juga sama, yakni Jatipuro, Jumantono, dan Jatiyoso juga belum ada SLB. "Jadi, kami menyebutnya empat J. Jumapolo, Jatipuro, Jumantono, Jatiyoso, dan di sana tidak ada SLB. Padahal dari hasil penelitian saya dengan dosen di UNS, daerah ini banyak ABK-nya,” ujar Ita.

Akses SLB yang jauh dan harus ke kota Karanganyar membuat para orang tua dengan ABK memilih merawat anak mereka di rumah tanpa memperoleh pendidikan. “Kalaupun ada, mereka harus ke kota yang jaraknya sekitar 25 kilometer. ABK sudah tantrum dulu sebelum sampai sekolah," Ita menambahkan. 

Akhirnya, pada 2017 Ita mendirikan SLB Putra Mandiri di Jumapolo, tepatnya di Dusun Randusari. Sejak itu barulah ada SLB di wilayah tersebut. Namun, kondisi sekolah masih ala kadarnya. "Kami membangun satu ruangan yang kemudian kami sekat-sekat agar bisa menampung siswa yang jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun," ujar Ita yang merupakan alumni Pendidikan Luar Biasa (PLB). 

Kondisi ruangan yang bersekat tentu saja membuat siswa kurang nyaman dalam belajar. Mereka harus berbagi ruang di ruangan yang sempit. Kondisi lantai yang tidak berubin membuat guru harus menyiram lantai sebelum belajar agar tidak berdebu. 

Meski demikian, bukan berarti SLB Mandiri Putra minim prestasi. Sekolah ini bahkan menjadi salah satu sekolah yang berhasil menjadi partner resmi untuk menyediakan cinderamata saat Asian Para Games 2018 di Solo. Banyak murid SLB ini juga meraih prestasi di berbagai bidang. 

Kondisi seadanya tersebut berlangsung hingga akhirnya sekolah mendapat bantuan Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025. Dari program ini, SLB Putra Mandiri mendapat bantuan 10 unit ruang kelas baru, ruang pembelajaran khusus, perpustakaan, aula, renovasi ruang guru, ruang UKS, dan juga toilet. "Dulu, total 60 warga sekolah, hanya ada dua toilet dan toiletnya juga sempit. Aksesibilitas murid jadi terbatas," tambah Ita. *** (Penulis: Tim Ditjen Vokasi PKPLK/Editor: Denty A.)

Dengan ruang kelas baru, berbagai perubahan mulai dirasakan. Tidak hanya murid yang lebih nyaman belajar dalam ruangan kelas yang lebih luas dan tak lagi berdebu, semangat belajar murid juga meningkat. "Mereka tidak perlu umpel-umpelan lagi, karena ruang belajarnya sudah ideal, enam murid dalam satu ruang kelas. Dulu bisa 10-an lebih," ujar Ita mengenang. 

Bagi Ita, SLB Mandiri Putra saat ini adalah mimpi dan cita-cita yang ia pelihara sejak 2017 lalu. “Revitalisasi ini mempercepat terwujudnya mimpi saya untuk bisa melayani anak-anak ABK ini dengan pelayanan pendidikan yang baik, yang mampu menumbuhkan potensi dan bakat mereka,” ujar Ita.

Bagi Ita, SLB bukan tempat untuk membandingkan pencapaian anak, tetapi tempat untuk menumbuhkan potensi dan bakat para ABK. Oleh karena itu, dukungan sarana dan prasarana sangat diperlukan agar bakat dan potensi ABK bisa tumbuh dan berkembang optimal. *** (Penulis: Tim Ditjen Vokasi PKPLK/Editor: Denty A.)

Bagikan Berita

Baca Berita Lainnya