Bangun Sekolah Humanis, Kemendikdasmen Tekankan Pendekatan Tanpa Kekerasan
27-05-2026
Penulis: Edunexa

Jakarta, 28 Mei 2026 - Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini menjadi momentum penting bagi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menegaskan kembali komitmen untuk menghadirkan sekolah yang aman, nyaman, dan memanusiakan anak. Melalui seminar bertema “Budaya Sekolah Aman dan Nyaman dalam Rangka Penguatan Karakter dan Perlindungan Murid di Sekolah” yang digelar secara hibrida di Jakarta, beberapa waktu lalu, Kemendikdasmen mengajak seluruh elemen pendidikan bergerak bersama membangun lingkungan belajar yang lebih inklusif dan berempati.
Melalui seminar Hardiknas ini, Kemendikdasmen berharap lahir sebuah gerakan nasional yang tidak hanya menyentuh lingkungan sekolah, tetapi juga memperkuat hubungan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan dukungan regulasi yang kuat, peningkatan kapasitas pendidik, serta keterlibatan aktif orang tua, pemerintah optimistis setiap anak Indonesia dapat tumbuh dan belajar di ruang yang aman, nyaman, dan benar-benar memanusiakan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa membangun budaya sekolah aman dan nyaman bukan hanya tentang upaya menjalankan aturan administratif. Lebih dari itu, kebijakan ini merupakan gerakan bersama untuk menghadirkan pendekatan pendidikan yang lebih manusiawi. Selain aspek sosial dan emosional, budaya sekolah yang aman juga mencakup dimensi spiritual. Setiap murid perlu merasa bebas menjalankan keyakinannya di lingkungan sekolah tanpa rasa takut ataupun diskriminasi.
Menurutnya, pendidikan karakter lahir dari cara sekolah membangun rasa hormat dan penghargaan terhadap setiap anak. Murid perlu diberi ruang untuk tumbuh sesuai bakat dan minatnya, sementara sekolah hadir untuk mendampingi dan memfasilitasi proses tersebut dengan sebaik-baiknya. Ia juga menekankan bahwa pendekatan dalam membangun disiplin di sekolah seharusnya tidak bertumpu pada hukuman semata. Guru didorong untuk lebih memahami latar belakang perilaku murid, bukan hanya melihat apa yang tampak di permukaan. Dalam pandangannya, sekolah yang aman dan nyaman adalah sekolah yang membuat murid merasa didengar, dihargai, dan diterima apa adanya. “Budaya sekolah yang aman dan nyaman bukan soal sanksi, tetapi bagaimana guru dan murid dapat saling mendengar dan saling menguatkan,” ujar Menteri Mu’ti dalam acara yang digelar secara hibrida di Jakarta, Senin (25/5),
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti dalam laporannya menyampaikan bahwa seminar ini dirancang sebagai ruang berbagi praktik baik sekaligus memperkuat komitmen bersama lintas sektor. Ia menegaskan bahwa pendidikan sejatinya tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada terciptanya ruang tumbuh yang sehat, aman, dan inklusif bagi setiap anak.
Ia berharap hasil diskusi dalam seminar ini dapat mendorong langkah nyata, baik dalam kebijakan maupun praktik di satuan pendidikan, sehingga seluruh murid di Indonesia dapat belajar dalam lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal.
Sementara itu, CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurniawaty Ukkar, mengajak seluruh insan pendidikan untuk bersama-sama menghadirkan sekolah yang benar-benar berpihak pada anak. Menurut Desi, perubahan budaya sekolah harus dimulai dari perubahan sikap orang dewasa di sekitar anak, baik guru maupun orang tua. Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan lingkungan belajar yang membuat anak merasa aman, dihargai, dan dipercaya.
Seminar ini sekaligus memperkuat implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman beserta pedoman pelaksanaannya. Tidak sekadar menjadi agenda seremonial, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk membicarakan masa depan pendidikan yang benar-benar berpihak pada anak. Sekitar 100 peserta hadir secara langsung, terdiri atas perwakilan kementerian dan lembaga, dinas pendidikan wilayah Jabodetabek, mitra pembangunan, hingga komunitas pendidikan. Sementara itu, lebih dari 5.000 peserta mengikuti seminar secara daring melalui kanal YouTube Kemendikdasmen dan Save the Children Indonesia. Peserta daring mencakup kepala sekolah serta guru PAUD dan SD dari ratusan sekolah di berbagai daerah sasaran program Kreasi, mulai dari Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, hingga Maluku Utara. (Penulis: Fairuz, Dokumentasi: Laili)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah
Bagikan Berita
Baca Berita Lainnya

Berita Nasional
Kemendikdasmen Kirim 6 Siswa Terbaik dalam Ajang International Mathematical Olympiad 2025
21-10-2026
Bandung, Kemendikdasmen — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), mengirimkan enam siswa terbaik Indonesia untuk berkompetisi di ajang...

Berita Nasional
Buku Bergambar Tumbuhkan Minat Literasi Anak Berkebutuhan Khusus di TK IT Mekar Insani
16-10-2026
Yogyakarta, Kemendikdasmen - Buku bergambar dan kegiatan mendongeng menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan minat literasi anak berkebutuhan khusus (ABK) di TK IT Mekar Insani. Melalui pendampingan guru...

Berita Nasional
Science Film Festival Kenalkan AI kepada Pelajar, Dorong Pemanfaatan Teknologi secara Bijak
06-10-2026
Jakarta, 7 Oktober 2026 – Kementerian Pendidikan dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong pelajar untuk mengenal kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) serta memanfaatkannya secara bij...

Berita Nasional
Ketika STEM Mengubah Rasa Takut Murid Menjadi Belajar untuk Siap Siaga Bencana
05-10-2026
Bone Bolango, Gorontalo, Kemendikdasmen - Bagi murid SNT 6 Bone Bolango, belajar tentang gempa dan cuaca ekstrem tidak lagi berhenti pada catatan di buku pelajaran. Mereka diajak keluar dari rutinitas...
