Dari Kursus ke Dunia Kerja, PKK Buka Jalan Ana Menata Masa Depan
04-10-2026
Penulis: Edunexa

Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, 5 Oktober 2026 – Dua bulan setelah lulus dari SMA Negeri 1 Sidareja, Ana Asmianti, 19 tahun, belum memiliki pekerjaan. Ia memilih mencari keterampilan baru karena merasa kemampuan komputernya masih terbatas. Keputusan itu kemudian membawanya mengikuti program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) 2025 bidang Desain Grafis di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Media Komputer. Setelah menyelesaikan pelatihan, Ana memperoleh pekerjaan pertamanya di CV Dhudut Advertising & Digital Printing (Percetakan Dhudut), Sidareja. Kini, setelah sekitar enam bulan bekerja, Ana mulai mampu menangani pekerjaan administrasi sekaligus desain sederhana dan menabung untuk melanjutkan kuliah.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Kursus dan Pelatihan (Dit. Suslat) menyelenggarakan program PKK sebagai layanan pendidikan dan pelatihan yang berorientasi pada keterampilan sesuai kebutuhan dunia kerja. Program ini bertujuan membekali peserta dengan kompetensi yang dapat digunakan untuk memasuki dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja, sekaligus memperluas akses keterampilan bagi masyarakat yang belum bekerja atau belum memiliki keterampilan kerja yang sesuai. Dengan menyelaraskan pembelajaran dengan kebutuhan industri, PKK diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara kompetensi calon tenaga kerja dan kebutuhan dunia kerja.
Ana mengenal LKP Media Komputer dari seorang tetangganya yang pernah mengikuti kursus di lembaga tersebut. Meski di SMA ia telah mendapatkan pelajaran Informatika, Ana merasa materi yang diperoleh masih sebatas dasar. “Kurangnya karena di SMA tuh kan cuma basic-basic-nya saja, kayak belum paham banget tentang komputer,” ujar Ana.
Keinginan untuk lebih menguasai komputer, termasuk Microsoft Office, kemudian membawanya mengikuti PKK selama sekitar dua bulan bersama sekitar 20 peserta lainnya. Saat itu, Ana belum bekerja dan mengikuti pelatihan dengan harapan memperoleh keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja.
Kondisi peserta yang datang ke LKP Media Komputer memang beragam. Agustin Wahyuni, instruktur LKP Media Komputer, mengatakan sebagian peserta sudah memiliki dasar, tetapi ada pula yang benar-benar memulai dari nol, termasuk dalam mengoperasikan komputer. Tantangannya bukan hanya menguasai perangkat dan aplikasi, tetapi juga membangun kreativitas agar peserta mampu memenuhi kebutuhan industri.
“Kalau namanya desain kan kita itu kreativitas, itu yang masih belum bisa apa ya...masih kaku,” ungkap Agustin. Pembelajaran kemudian disesuaikan dengan perkembangan teknologi, termasuk pemanfaatan kecerdasan artifisial di samping penguasaan CorelDRAW dan Adobe Photoshop untuk mempercepat proses kerja.
Perubahan itu dirasakan Ana setelah mengikuti pelatihan. Ia tidak hanya mengenal CorelDRAW dan Adobe Photoshop, tetapi juga menjadi lebih mampu menggunakan Microsoft Word, Microsoft Excel, dan Microsoft PowerPoint. Sekitar satu hingga dua minggu setelah menyelesaikan PKK, instrukturnya memberi informasi bahwa Percetakan Dhudut membutuhkan desainer dan staf administrasi. Ana mencoba melamar dan diterima sebagai pekerja untuk pertama kalinya. “Tentunya lebih familiar sama komputer. Jadi lebih apa ya... terampil tangannya juga,” tutur Ana. Setelah sekitar enam bulan bekerja, ia mengaku semakin cepat mengetik dan lebih terbiasa menghadapi kebutuhan pelanggan, meski masih terus belajar memahami istilah dan jenis pekerjaan baru di percetakan.
Bagi Agus Widayat, Kepala LKP Media Komputer, keberhasilan pelatihan tidak berhenti pada kemampuan peserta menyelesaikan uji kompetensi, tetapi harus berlanjut pada kesiapan memasuki dunia kerja. LKP yang mulai beroperasi pada 2000 dan memperoleh izin pada 2003 itu sejak awal berkembang dengan mengikuti kebutuhan masyarakat dan perubahan teknologi. "Ingin lembaga ini lebih berguna bagi masyarakat, itu aja,” ujar Agus mengenai visi lembaganya.
Oleh karena itu, pembelajaran diarahkan agar fleksibel mengikuti kebutuhan industri, dilengkapi pendidikan karakter, bimbingan karier, dan keterlibatan praktisi industri untuk memberikan pembekalan ketenagakerjaan.
Dampak pelatihan juga terlihat dari perjalanan Sinta, alumni PKK Desain Grafis LKP Media Komputer tahun 2020 yang kini bekerja di tempat yang sama dengan Ana. Semula merupakan lulusan SMK jurusan Perbankan Syariah, Sinta mengaku benar-benar belum mengenal Corel ketika mengikuti pelatihan. Setelah menjalani magang, ia melamar ke Dhudut dan mulai bekerja pada Januari. Hingga kini, ia tetap bekerja sebagai desainer dan telah hampir enam tahun bekerja.
Menurut Sinta, pengalaman kerja membuat kemampuan teknis sekaligus kepercayaan dirinya berkembang. “Sekarang sudah bisa ngajak ngobrol customer. Dulu sama sekali nggak bisa ya... dulu introvert,” kata Sinta.
Hubungan LKP Media Komputer dengan dunia kerja turut memperkuat jalur penyerapan lulusan. Agus menjelaskan, meskipun tidak seluruhnya berbentuk kerja sama formal, LKP memiliki komunikasi dengan sejumlah usaha dan industri yang membutuhkan tenaga terampil. Salah satunya PT Wahana Kasih Mulia (WKM).
Nur Hasanah, Supervisor Human Capital PT WKM, mengatakan hubungan dengan LKP telah berlangsung sejak sebelum dirinya menangani komunikasi tersebut dan berlanjut melalui kebutuhan rekrutmen maupun pembekalan peserta. “Selama ini juga saya butuh untuk desain pasti menghubungi Bu Agustin,” ujar Nur.
Ia menilai pembekalan LKP membantu calon pekerja memahami keterampilan, psikotes, budaya, dan kedisiplinan kerja sebelum memasuki perusahaan. Namun, menurutnya, keterampilan teknis tetap harus diikuti kesiapan mental. “Bukan cuma kamu punya skill aja, tapi kalau mentalnya enggak kuat juga enggak bisa kerja di mana pun,” kata Nur.
Bagi Ana, pekerjaan pertama bukan menjadi akhir dari proses belajar. Ia masih menghadapi tantangan ketika menemui istilah atau kebutuhan pelanggan yang belum dikenalnya dan memilih bertanya kepada operator untuk memperluas pemahaman. Ia menargetkan penghasilannya untuk melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka sambil tetap bekerja dan berharap dapat mengikuti pelatihan kembali untuk menambah keterampilan. “Karena hidup cuma sekali, jadi jangan malas belajar aja,” pesan Ana.
Perjalanan Ana, Sinta, serta hubungan LKP Media Komputer dengan industri menunjukkan bahwa dampak PKK tidak berhenti pada selesainya pelatihan. Ketika keterampilan yang diperoleh sesuai kebutuhan dunia kerja, disertai pembentukan kesiapan kerja dan akses kepada industri, program dapat membuka jalan dari kondisi belum bekerja dan keterbatasan kompetensi menuju pekerjaan, pengalaman, kepercayaan diri, serta kesempatan melanjutkan rencana hidup.*** (Penulis & Dokumentasi: Rany Larasari)
Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat
Sekretariat Jenderal
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Laman: kemendikdasmen.go.id
X: x.com/Kemdikdasmen
Instagram: instagram.com/kemendikdasmen
Facebook: facebook.com/kemendikdasmen
YouTube: KEMDIKDASMEN
Pertanyaan dan Pengaduan: ult.kemendikdasmen.go.id
Siaran Pers Kemendikdasmen: kemendikdasmen.go.id/pencarian/siaran-pers
#PendidikanBermutuuntukSemua
#KemendikdasmenRamah
Bagikan Berita
Baca Berita Lainnya

Berita Nasional
Kemendikdasmen Kirim 6 Siswa Terbaik dalam Ajang International Mathematical Olympiad 2025
21-10-2026
Bandung, Kemendikdasmen — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), mengirimkan enam siswa terbaik Indonesia untuk berkompetisi di ajang...

Berita Nasional
Buku Bergambar Tumbuhkan Minat Literasi Anak Berkebutuhan Khusus di TK IT Mekar Insani
16-10-2026
Yogyakarta, Kemendikdasmen - Buku bergambar dan kegiatan mendongeng menjadi pintu masuk untuk menumbuhkan minat literasi anak berkebutuhan khusus (ABK) di TK IT Mekar Insani. Melalui pendampingan guru...

Berita Nasional
Science Film Festival Kenalkan AI kepada Pelajar, Dorong Pemanfaatan Teknologi secara Bijak
06-10-2026
Jakarta, 7 Oktober 2026 – Kementerian Pendidikan dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong pelajar untuk mengenal kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) serta memanfaatkannya secara bij...

Berita Nasional
Ketika STEM Mengubah Rasa Takut Murid Menjadi Belajar untuk Siap Siaga Bencana
05-10-2026
Bone Bolango, Gorontalo, Kemendikdasmen - Bagi murid SNT 6 Bone Bolango, belajar tentang gempa dan cuaca ekstrem tidak lagi berhenti pada catatan di buku pelajaran. Mereka diajak keluar dari rutinitas...
